STUDI KE JERMAN? SIAPA TAKUT

“Tak hanya Jerman, tapi mereka juga dikirim untuk studi di Belanda, Inggris, Perancis dan negara Eropa lainnya” ungkap Elkana

GUTEN MORGEN PAPUA

Tanah Papua tanah yang kaya/surga kecil jatuh ke bumi/Seluas tanah sebanyak madu/adalah harta harapan” .

MENGENAL KAMPUS LIP

Terletak di komplek persekolahan SMP dan SMA Lokon St. Nikolaus Tomohon, yang kurang lebih 7 km dari Gunung Lokon, kampus ini ramai jika KBM sedang berlangsung. Tercatat di tahun ini ada 500 siswa lebih sedang belajar di Losnito.

REKREASI KE PULAU LIHAGA

Sabtu (31/3) yang lalu saya dengan rombongan LIP berjumlah 17 orang, mengisi waktu libur Paskah untuk berwisata ke pulau Lihaga

EVALUASI LIP 2012/2013

LIP adalah program pre-university yang dilaksnakan atas MOU dengan IDEA dan dilengkapi Yayasan Pola Harapan Papua.

Showing posts with label LIP. Show all posts
Showing posts with label LIP. Show all posts

12 May 2013

"Merubah Untuk Kuat" Motto Student LIP


LIP - Bertha Lagowan, gadis Papua asal Angkasa, Jayapura tak bisa menutupi kegembiraannya, ketika MC memanggilnya untuk maju ke panggung yang pertama. Ia berhak menerima Sertifikat penamatan kursus persiapan ke Jerman selama enam bulan yang diselenggarakan oleh LIP. LIP singkatan dari Losnito Intensive Program yang dikelola oleh yayasan Pendidikan Lokon.

Malam itu (10/5) ada 12 student LIP menerima sertifikat tanda penamatan program. Mereka selama enam bulan berada di Kampus Losnito untuk belajar dan mmpelajari berbagai mata pelajaran. Yang paling utama adalah bahasa Inggris, bahasa Jerman dan ilmu pasti seperti Kimia, Matematika dan Biologi.


Hospitality yang merupakan bagian dari pembentukan Karakter dari budaya Papua menuju ke budaya International, juga mereka pelajari. Table Manner, Field Trip ke Hotel dan rumah sakit Siloam bertaraf International mereka jalani untuk menambah wawasan apabila mereka kelah hidup di Eropa.

Selama enam bulan, mereka tinggal di asrama untuk belajar mandiri dan hidup bersama dalam komunitas yang saling bantu membantu di bawah bimbingan pembina Asrama.
“Ide untuk menyekolahkan ke Jerman bagi generari penerus Papua ini datang begitu saja. Awal ceritanya datang dari Bapak Bertus Tabuni yang mendapat kesempatan keliling Eropa. Australia, Korea dan Canada, Amerika. Sepulangnya dari Eropa dan kembali ke tanah Papua, beliau merasa prihatin dengan kondisi Papua yang jauh dari modern meski memiliki kekayaan alam yang luar biasa. Karena itu, Bapak Bertus bersama masyarakat mendirikan Yayasan Harapan Pola Papua untuk menyiapkan generasi muda Papua bisa belajar ke Luar negeri. Niatnya ini semakin nyata ketika bertemu langsung dengan Prof. Josef Herman Buchkremer dari Universitas Aachen Jerman yang menjadi direktor Freshman Institute. Dari 100 pendaftar, kemudian disaring menjadi 50, lalu 20 dan terakhir 15, namun yang datang ke Manado hanya 12 orang” ungkap Pak Yohanes Tabuni dalam sambutannya pada acara penamatan dan perpisahan student LIP di Green Garden, Tomohon.

Hujan dan gerimis di malam hari itu tak mengganggu acara perpisahan. Sebaliknya semakin seru hangat ketika terjadi dialog antara orang Jerman dan anak Papua. Malam itu yang hadir selain pengurus LIP, pengajar dan student juga hadir (kebetulan) dua orang Jerman dan orang Indonesia yang studi di Jerman.


“Yoppy dan Novi ini dulu orang biasa yang tidak mengerti bahasa Jerman dan akhirnya bisa menyelesaikan studinya di Jerman dan bekerja di jerman. Dari yang tidak bisa apa-apa menjadi bisa” ungkap pak Jimmy W.

Novi kemudian bercerita tentang pengalaman hidupnya di Jerman. Kemudian Novi memberikan nasehatnya kepada para student dari Papua. Yang pertama, jangan lupa membawa pakaian tradisional dan sekaligus bisa memamerkan kepada orang Jerman lewat tari-tarian Tradisional. Kesenian tradisional sangat dihargai oleh orang Jerman. “Saya dulu bisa hidup dan mendapatkan tambahan keuangan karena saya dipanggil untuk acara-acara pembukaan untuk menari Minahasa, Bali dan sebagainya” sharing Novi.

Yoppy Ruru, asal Manado, bercerita tentang dulu kuliah Arsitekturnya di Jerman (1986). Aktifis Perhimpunan Pelajar Mahasiswa Indonesia di Jerman ini bercerita tentang tips dan trik study di Jerman. Ia juga membawa dua orang Jerman yang adalah anak-anak dari teman Jermannya. Dalam suasana dialog dengan student Papua yang akan ke Jerman, ia memberikan tipsnya.

(1)    Kuliah di Jerman itu tidak ada absen. Bukan Dosen yang mencari mahasiswa tetapi mahasiswa datang kuliah untuk mencari Dosen. Terserah mau datang ke kampus atau tidak bukan urusan dosen. Ini artinya apa? Siapa saja yang belajar ke Jerman harus punya “tekad, niat untuk belajar”. Apalagi di jerman boleh kerja. Universitas, fakultas atau dosen tidak akanpeduli terhadap mahaiswa yang menyambi kerja. Yang penting elama prestasi kuliah bagus, tidak masalah.
(2)    Ujian di Jerman hanya boleh dua kali. Kalau kamu ujian sampai dua kali, itu tandanya kamu tidak berniat menjadi Arsitektur. Kalau mau niat untuk belajar tidak perlu ujian dua kali.
(3)    Kalau sudah kuliah di Jerman jangan hanya bergerombol dengan temanya sendiri atau orang-orang Asia. Cari teman orang Jerman untuk saling berbagi ilmu dan mengembangkan ilmu bersama.
(4)    Rekamlah saat Dosen mengajar. Awal kuliah Yoppy tidak mengerti apa yang diterangkan oleh Dosen meski telah lulus bahasa Jerman dari Goethe Institut. Karena itu dengan “walkman” ia rekam pelajaran dan diulang di rumah. Tak hanya itu, kemudian ia berani bertanya kepada dosen. Dengan cara merekam dan bertanya, akirnya kuliahnya bisa lancar. Orang sangat terbuka terhadap setiap pertanyaan mahasiswa. “Malu bertanya sesat di jalan” ungkapnya.
(5)    Orang Jerman sangat menghargai sikap orang yang terbuka apa adanya. Maksudnya, jangan pernah berbohong di hadapan orang Jerman. Sekali berbohong di hadapan mereka, urusannya bisa panjang dan berbelit-belit. “Emosi anak muda harus dikontrol supaya berani terbuka apa adanya” tegas Yoppy.

Suasana dialog semakin hangat, kendati udara dingin di kaki Gunung Lokon makin terasa di kulit seiring dengan jarum jam yang semakin larut malam.

“Dinginnya Jerman bisa diatasi pertama-tama dengan memakai kaos kaki. Jika kaki hangat maka seluruh tubuh menjadi hangat. Oh ya di sana orang tidak boleh sembarang cuci baju. Saluran air pembuangan sudah di atur. Jadi air wastafel, pembuangan airnya tidak sama dengan pembuangan air mesin cuci, demikian juga shower di kamar mandi. “Jangan sekali-kali mencoba cuci baju di wastafel. Orang Jerman akan marah sekali. Cuci baju disediakan di mesin cuci dengan memasukkan koin” nasehat Yoppy.

Malam itu suasana saling berbagai pengalaman baik saat belajar di LIP dan pengalaman belajar di Jerman, makin menghangat sehingga memotivasi para student makin kuat dan segera ingin belajar ke Jerman. Pertunjukan para student dengan menggunakan bahasa Jerman, bahasa Inggris dan bahasa daerah Papua mendapat apresiasi dari orang Jerman yang hadir dalam acara perpisahan itu.

 “Merubah menjadi kuat” menjadi semakin nyata di malam hari ini. Acara pun ditutup dengan makan bersama. Saya pun melahap menu “Minahasa food” dengan lahapnya karena perut sudah lapar sejak tadi. Sambil menikmati hindangan, saya bermimpi, sepuluh tahun ke depan Papua dari yang biasa saja pasti bisa menjadi propinsi yang kuat dan maju karena generasi penerusnya sudah pulang dari Jerman.

10 May 2013

Graduation Students LIP

LIP -

My Experience During In Tomohon, By Shita Wenda


 LIP - 6 (six) month ago I and my friends went to Tomohon city with plane air. When we landed in Manado city we shuttle by Mr. Try Nugroho, Mr. Vence Tuwaidan, Mr. Jimmy Pontoan, and then we all went to tomohon city with bus, in trip we stop in a restaurant in between Manado and Tomohon city, after ate we trip continue. And we stay a night in Mega mendung and tomorrow morning we went to school in Losnito Santo NicolausTomohan (LOKON), after school we went to Alamanda. Alamanda was a place for recreation and in alamanda had a church some time for married. We in tomohon city I and my friends stay in Alamanda, alamanda was very cold.
During we stay in Tomohon  I was  feel  many event  for  sad, fun,  funny, angry, lazy and busy, but it all didn’t decrease , we always together made me don’t  feel. Began I had feel  sad because I must stay so far from my parents but  all disappeared because in here  we were can parents, I think they can made us same with stranger, but this all is false, but all in here we regard as kind their children and all people in Tomohon  were friendly . The first, our father and mother were all lead we for became better and useful for myself and our teacher were always gave us subject was the best and always gave us motivation for became someone which success kind of can made Papua became more advance for now.

I was very happy and fun because in here I made many experiences which I don’t can in Papua. And then   I can understood as little as culture, language, life, and religious people in Tomohon city. So far differed from Papua. Yet, all it doesn’t made I for feel uncomfortable because, I had need all there is deep many subject.  Praise the lord, beginning until now I was not yet sick. Stay in Tomohon city was experience which made me don’t can forgot all happen in here.

Last I didn’t had something which can I gave for all, because for here I can accept many something a new. Thank you so much for all my teacher in LOKON, I don’t forgot all merit and sacrifice their during six month ago, although in it I can made all my teacher dad for me and something didn’t follow order you, for that please forgive me for all my behavior which dad, and with all my fault during this, thank you so much…

Other Post:

My Experience By Annas Kilungga

LIP - First of all I would like give thanks to God for protecting and guying me, when I was studying in SMA Lokon for 6 (six) months that I already passed .Before I come from Papua to Tomohon-Manado,I really worry and afraid with the people in Tomohan, because different culture, language and our skin, in fact the Tomohon people are very good and the culture of Papua and Tomohon almost same. there was I understood that white people and black people are created of God and we are one, because god is one.

Many experiences are I got in Lokon foundation, but I just want to write few of them  I  was impressed that I can’t forget namely about my teacher and the committee of Lip. First one is about the teacher. I really pleasure with  their teaching style, because easy to understand. I studied in SMA Lokon for six months not in vain, but I lucky because I can speak German language little bit, although not perfect but I can understand what people talk about.

And second is about the committee LIP. I proud of them because when my friends and I were studying, they never forsaken, but always control us. for six months we studied not in the class only but also we studied out of class like study tour visited several business premises, there were I got many experiences. This is the experience that I experienced for six months in SMA Lokon (Tomohon town).

My experience with LIP Program by Bertha

LIP - Already six months I was in Tomohon, from 31 October 2012 until 30 April 2013. I came from Papua to study at Lokon SMU campus. While studying at Lokon I have a lot of fun experiences. We are prepared by the LIP program (Losnito Intensive Program). Where each teacher exerts his best to teach us every day. Thank you very much too all my teachers, for teaching me with patience. You know that I was the fool who came from Papua. I do not understand English very well in advance or doing math problems correct previous premises. I find it difficult to translate the English text. I remember when I first learned the English language I can’t translate everything. But I was lucky to have a teacher like Sir David Mandagi and Miss Gress O'Nelwan who patiently helped us to translate English text. I am very grateful to both my English teacher is terrific. Thanks to them I was able to speak English as it is now. Not only about learning English but I also find it difficult about math, because math is my most hated subject. When I look at the schedule and it turns out I have to deal with the math, I said Oh God help me, I'm verry hate math. But I am very grateful to my entire math teacher from Prof.Mesakh, sir Sisco, mom Vianti, mom Freni and sir Jun, who did not give up breathing for us and always helped with patient. Once again thank you very much. And I still remember when sir Jun say “there is nothing impossible in this world, certainly can if we try, sir also initially could not but because there is a willingness to learn why sir can. You also can do as long as you want to try and don’t give up breathing to keep trying”. Other than that I also had other experience, I went with my friends study tours to hotels, hospitals, fishing, and unforgettable are we swam at the beach, the island Lihaga. All of my experience made me happy and it very fun for me. Finally, I would like to say that all employees and students in high school Lokon very disciplined, they are very good, honest and always respect others, that's why I will not forget the kindness of their breathing. I think that's all I'll see you again. (Bertha)

"Blessing for future generations" said Wenda Helen

LIP - My name is Wenda  Helen. I come from Jayapura. Papua. I am a student in Lokon and  then I stay at Lokon Resort with my friends from Papua . We are 12 students come from Jayapura.

Since six month ago, I am one of participants in Losnito Intensive Program (LIP) at Lokon.  In this program, we are prepared to continue our study in German University. I will take the medical school, especially a heart specialist in Papua. Helping in healthy for my people in Papua, it become my motivation to study in medical program.

When I arrive to Manado, some staffs of the Lokon foundation picked up us to Tomohon by a luxury bus.  At that time, I received by staff personally so I fell impresive and I appreciated for this situation.

According to me, as long as study, the teachers from Lokon are very good. They teach us very effective way, so we are not very difficult to follor their teaching. I got here a great experience in learning than before.

In my opinion, all of this doing well not because of my ability but rather the result of cooperation with the LIP of the program committee of teachers Lokon. I would like to thanks especially to the father almighty.

I feel very impressed with my German teachers. Anyway. My English teachers also teach very well, because of always give a good motivation to learn this language. Why I say likr this. In the past, I did not like to learn a foreign language due to pass Senior High School.

The first reason, I do not understand and very lazy to attempt learn the foreign language before. But in this time, after our teachers teach me in LIP, I really like to learn a foreign language. In fact, German or English language for me it can be understood. Even though not all but it has  made me satisfy and I am determined to be more  stout trying to learn and learn to be successful study abroad.



Then my advice to teachers Lokon ‘’continue to be a channel of blessing for future generations who want to learn from you’’. There is no finish or final word beautiful word, to  thank all those who took part in the program LIP. 

Sorry  if all this time I got a good one for you through our words, actions, behavior, and  thank you because you are quite friendly with us all. I cannot reply to all your services but let God will reward’ ’Amen ‘’.

09 May 2013

My Experience with LIP, By Klant Tabuni


LIP - As long as six month ago, from November 31, 2012 until April 30, 2013, I went to Tomohon for study in Lokon High School Campus. During to study in Lokon, I had many experiences in my life.  I was prepared to study in LIP (Losnito Intensive Program). Some teachers were hardly to teach us every day.

Thanks you very much for all of my teachers, because of teach me very humble. You know firstly I felt very stupid, at the first time I came to Manado, North Sulawesi after leaving from Jayapura, West Papua. I think firstly I do not understand about English Language yet.

In the early I’m very difficult to learn English lesson. I did not forget when my two teachers Sir David, and Miss Grace Nelwan give students to translate a letter in Indonesia language, word by word. But, I’m very difficult to do that, so I said to Sir David, “Sir I’m sorry before. I give up to do this working for translate the words.  I do not understand and I don’t know an poor in the vocabulary. Very difficult to translate the words of letter”!

Sir. David gave some comments to me, “Yes I know of course, all of you have very difficult to do that, but I certainly as long as your studied one by one I believed and sure your will understand and your can translate all of words”. And finally until now, I always try to do the work well and I try to translate over all step by step although I rarely made many mistakes. In my heart, I must understand English language very well in the future.

Not only about English lesson. I also did not know about Mathematica lesson. Remember in the past, when I was junior high school and senior high school I’m rarely learned about Mathematica.
When the team teachings of Math teach us in the classroom, I try to learn the match hardly. But I did know how to understand all; it was very difficult to do in worksheets. i come back to the dormitory, I bring out the terrible situation. That’s why I can not sleep well.

Once upon time, when I can not sleep, I go out from my room and  I sit down on  the terrace. In my mind, how stupid I realize my self at this time because of Math homework that I can’t do it. I judge my self, surely I’m dislike the subject of Math.

After years ago, I and my friends have a chance to go to Manado. As you know, I took a short course to follow LIP’s program and the program held in St Nikolaus Lokon High School. In the beginning I study in Lokon, it was very surprise to me because in the schedule I saw one of the lessons, I mus study again the Math. 

Oh my God, I hate Math. This lesson make very upset!  As I said, I do not like to learn Math.
Anyway as long as I went to school to follow the LIP’s program, step by step and my friend come to help me about Math. In fact, all my Math teachers try to teach us honestly and loyalty heart. Day by day, I begin to open my mind and start to lke Math lesson. Finally, I can do the Math homework. Then I understand how to do that and for me it was not difficult again at the time. I did not forget when I was high school, Math was one of very difficult lesson. Right now, I’m very happy to study Math. That is why I feel very much different experiences when I was studying in Lokon high school.

Oh ya, I have other experiences, when I and our friends got a filed-trip tour in hotels, hospital, and canning fish, and visit the places to have fun recreation. I remember it was very happy when I take a bath shower in beach, swimming pool, and Lihaga Island. All of my experiences made me more fun and happy.

Finally, I would like to say that from all the staff, employees and students of high school is always on time! All of the staff and employees are very honest, loyalty because of  that I am very impressive that I never forget all of your kindness. Thank you and see you again! (*** klant)

07 May 2013

Evaluasi LIP 2012/2013

LIP - Program LIP (Losnito Intensive Program) yang diselenggarakan oleh Yayasan Pendidikan Lokon, pengelola SMP/SMA Lokon St. Nikolaus Tomohon, sudah berlangsung 6 bulan sejak dimulainya program pada awal Nopember 2012 yang lalu.

LIP adalah program pre-university yang dilaksnakan atas MOU dengan IDEA dan dilengkapi Yayasan Pola Harapan Papua. Tujuan pendidikan LIP tak lain adalah mempersiapkan para siswa yang berasal dari Papua yang ingin melanjutkan studinya ke Jerman. Pilihan ke Jerman sebenarnya sudah ada kesepakatan antara IDEA dengan pihak Universitas Aachen bersama Yayasan Pola Harapan Papua.

Siswa yang mengikuti program LIP berjumlah 12 siswa. Laki-laki 7 orang. Perempuan 5 orang. Jumlah ini merupakan hasil selekasi dari 102 lebih siswa yang mendaftar. Seleksi awal melibatkan Prof. Josef Herman Buchkremer dari Universitas Aachen.






LIP mempersiapkan, memperdalam dan mendrill para siswa dalam berbagai mata pelajaran, seperti Bahasa Jerman, bhs Inggris, Matematika, Kimia, Hospitility dll. Tak hanya dipersiapkan saja, tetapi juga diadakan assesment untuk setiap mata pelajaran yang diberikan lewat mid-semester dan semesteran.


Puncaknya adalah mengikuti tes Matematika dan Bahasa Inggris yang diberikan oleh Prof. Josef Herman Buchkremer pada tanggal 4 Maei 2013. Jika mereka lulus dari tes ini para siswa berhak mengikuti program Freshman di Universitas di Jerma. Program Freshman ini adalah program pemantapan sebelum masuk ke Universitas yang terkait di Jerman.






Hari ini (7/5/2013) ke 12 siswa diminta untuk memberikan evaluasi tentang akademik, dormitory dan hospitality.







Yayasan Pendidikan Lokon di tahun pendidikan 2013/2014 ini juga membuka shirt course selama 6 bulan untuk pendidikan perhotelan yang dinamai LOKON HOTEL SCHOOL. Jika anda berminat hubungi kami. Admission YPL 0341.351660, cp. Jimmy Pontoan.

05 May 2013

Test Masuk Program Freshman Universitas Aachen German


 LIP - Sabtu 4 Mei 2013, bertempat di Minitheatre, SMA Lokon St. Nikolaus Tomohon, Sulawesi Utara, diadakan test masuk untuk studi lanjut ke Jerman. Test ini dinamakan Tes Masuk Program Freshman (persiapan ke Universitas) khususnya ke Aachen Universitas di German. Prof. Herman Josef Buchkremer dan Pak Johanes Kembuan dari IDEA, secara khusus datang ke Lokon setelah melakukan perjalanan dari Makasar, Jakarta dalam acara yang sama.



Test 1 Matematika selama 60 menit. Jumlah soal 10 buah. Masing-masing soal berisi dua pertanyaan yang harus dijawab. Tes 2, bahasa Inggris selama 60 menit juga. Soalnya terdiri dari reading comprehension use of english 45 menit dan writing 30 menit. Peserta tes berjumlah 19 siswa. Dari jumlah itu 12 siswa adalah sytudents LIP. 8 siswa lain adalah penerima bea siswa kelas XII dari LPMAK dan 1 dari SMA Lokon. Tes berjalan lancar mulai dari jam 2 hingga jam 4 sore.

04 May 2013

Foto Bersama: Students LIP dengan Para Dosen




LIP - Rasa bersyukur selama mengikuti program pre-university yang diselenggarakan oleh LIP (Losnito Intensive Program) dari Yayasan Pendidikan Lokon, bekerja sama dengan IDEA dan Yayasan Pola Harapan Papua, tak terbendungkan.

Sejak awal Nopember 2012 hingga Mei 2013, mereka jalani dengan penuh semangat dan sntusiasme belajar yang tak meluruhkan niat untuk studi lanjut ke German. Semua pelajaran terutama bahasa Jerman, bahasa Inggris, Matematika, Kimia, Biologi dan lainnya mereka geluti terus. Monitoring kemajuan pembelajaran dilakukan dengan test mid dan tes akhir,


Selama mereka mengikuti kegiatan LIP, mereka tinggal di asrama/dormitory yang disediakan oleh YPL di Alamanda dan kemudian di Lokon Resting.

Awalnya ada 13 student. Kemudian Bebeto Tabuni mendahului temannya berangkat studi di Inggris. Kini tinggal 12 siswa yang terus menekuni pelajaran mereka hingga Mei.


Kebersamaan dengan para pengajar, menjadi kenangan yang terindah dan menguatkan semangat mereka untuk belajar ke Jerman.

25 February 2013

SIswa LIP TP. 2012-2013


LIP - Berikut ini daftar nama student LIP Angkatan 2012

(1) Elkana Ginia, lahir di Hetuima, tanggal 25 Februari 1994, asal Keerom, usia 17 tahun, anak pertama,  punya adik perempuan berumur 7 tahun. Cita-citanya ke Jerman untuk studik kedokteran dan kemudian mengambil spesialis Kulit dan Kelamin. Elkana termotivasi dengan kondisi kesehatan orang Papua yang minim akan fasilitas dan pengetahuan tentang hidup sehat.

(2) Helen Wenda, lahir di Sinakma, 22 April 1994, asal Wamena, suku Dani dan tinggal di Setani, Jayapura, Papua, tepatnya di Kampung Doyo Baru bersama krdua orang tuanya. Anak ke dua dari 6 saudara ini bercita-cita kuliah di Kedokteran.

(3) Klant Tabuni, asal Kampung Bolakme, Wamena. Lahit tanggal 19 Agustus 1994, Orang tuanya, Kayus Tabuni dan Losata Yikma serta ke empat saudaranya yaitu Aselena, Nuslin, Kalpina, Krist sangat mendukung Klant untuk studi lanjut ke Jerman. “Nombae Allah wo”.

(4) Bertha Lagowan, lahor di Sentani, 18 April 1995, yang sering dipanggil Etha, berasal dari Wamena, desa Pugima. Ayahnya seorang pendeta. Karena tugas dan pelayan ayahnya di Jayapura, Etha sejak lulus SD sudah di Jayapura. Ke Jerman, Etha akan mengambil kuliah kedokteran. Kekurangan tenaga medis di Papua dan ingin menolong masyarakat dalam kesehatan, menjadi alasannya kuliah di kedokteran.

(5) Annas Kulingga, Pyramid, 4 Nopember 1988, asal dari suku Dani, Wamena Barat, anak pertama dari 3 bersaudara. Pekerjaan orang tuanya adalah petani. Annas ingin kuliah ke Jerman untuk memperdalam ekonomi Bisnis. Alasannya, pekerjaan masyarakat sebagai petani, tidak bisa membuat sejahtera apalagi kaya. Meningkatkan sumber daya manusia di kampungya menjadi dorong mengapa ia ingin kuliah di Jerman.

(6) Sita Wenda, lahir di Jayapura, 8 Mei 1993, hari-hari dipanggil Sita atau Lanny. Ia berasal Phyramid, Kabupaten Jayawijaya, Papua. Mempunyai 3 saudara dan tinggal di jayapura.  Sebelum ke Manado, Sita sempat kuliah di Universitas Cendrawasih (Uncen) ambil jurusan accounting.  Saat ditanya soal kuliah di Jerman nati, Sita akan mengambil kedokteran meski dulu di SMA mengambil jurusan Sosial.

(7) Alfeus Haselo, Kurima, 30 April, anak suku Yalli dari Kurima, Yahukima, lulusan sekolah SMK YPK Jayapura, jurusan Akutansi, Studi ke luar negeri sudah lama diidamkan sejak SMP kelas 1. Jurusan Bisnis menjadi incarannya setelah selesai program persiapan ke Jerman.

(8) Yepri Komba, Papua, 5 Mei 1990, persiapan studi ke Jerman mengingatkan saat pertama kali bertemu dengan bule (turis asing) saat kelas 3 SD. "Dari mana bule ini?" tanyanya. Jeffry dibesarkan dari keluarga penginjil dan anak ke 3 dari 4 bersaudara. Jurusan yang dipilihnya kelak di Jerman adalah Ekonomi bisnis. Cita-cita sekembalinya dari studi nanti adalah menjadi Gubenur dan Bupati.

(9) Eta Eramona Tabuni, Tagime, 7 April 1995 berasal dari pegunungan (lembah) Baliem yang sekarang dikenal dengan kabupaten Jayawijaya. Kampungnya ada di Pyramid. Anak pertama dari 5 bersuadara ini pernah berpikir ke luar negeri ketika masih di SD. Bisa ikut LIP untuk persiapan studi lanjut di Jerman merupakan anugerah Tuhan tersendiri. Pengalaman mengikuti seleksi hingga dua kali memotivasi dirinya untuk belajar dan membuktikan bahwa dirinya bisa ke Jerman.

(10) Adolof Wetipo,30 April 1994 dari Propinsi Papua, Kabupaten Wamena (Yahukima, pemekaran dari Wamena), Kecamatan Kurima, Kelurahan Obalma, Desa Wulik, dulu masuk desa Anyelma. Menjadi orang sukses dengan studi di Jerman, menjadi motivasi kuat Adolof.

(11) Marwan Hirata Awi, 24 tahun, datang dari Jayapura, persisnya dari Kampung Nafri. Marwan, demikian nama panggilannya, berasal dari Suku Awi. Anak ke 4 dari 6 bersaudara ini bercita-cita kuliah di Jerman awalnya adalah ajakan dari Bapaknya Beto untuk ikut tes. Puji Tuhan akhirnya bisa lulus dan ikut program persiapan ke Jerman.

(12) Melianus Tabuni, dipanggil Meli dari suku Dani, tapi lahir di Bolakne, dan akan memilih jurusan Tehnik Mesin bila sampai di Jerman.



23 February 2013

Jelajah Alam: Menembus Hutan Mahawu


Saat ini, cuaca di seluruh Indonesia, memang sedang tidak bersahabat. Dari jejaring sosial dan media massa, disebutkan hampir di seluruh Indonesia banyak turun hujan. Tak ajal, beberapa kota dilanda banjir seperti di Jakarta, Jayapura, Semarang, Manado dan beberapa kota lain.


Meski demikian, pada hari Minggu (20/1) saya dan 8 siswa yang berasal dari Papua, mengadakan trekking ke Hutan Mahawu. Kami berangkat dari Alamanda pada pukul setengah sepuluh. Sehabis sarapan nasi goreng dengan lauk telur mata sapi, kami bersiap untuk menembus hutan Mahawu yang berada di belakang tempat tinggal kami.

Saat kami mau berangkat, mentari telah menyapa kami dengan sinarnya. Kehangatannya membakar adrenalin kami untuk segera berangkat. “Kalau hujan bagaimana Bapa?” kata Eramona yang kemudian diiyakan oleh teman-teman lainnya. “Yakin saja pasti tidak hujan” jawab saya. Wajar, kalau kami cemas karena memang saat ini musim penghujan.

Tas Kamera slempang dan tripod tak lupa saya bawa. Dengan mengenakan celana pendek dan sepatu olah raga (ada 2 siswa yang pakai sandal) kami berangkat melalui jalan setapak untuk masuk hutan Mahawu. Hutan yang kam jelajahi itu, berada di lereng Gunung Mahawu sebelah barat dengan ketinggian kurang lebih 1100 m dpl. Meski panas terasa di badan, namun kesejukan dan udara pegunungan masih kami rasakan dengan nyaman.

“Tolong kalau melihat binatang yang unik beritahu saya ya” seru saya kepada para siswa. “Untuk apa Bapa?” tanya Marwan Awi, pemuda dari Suku Awi, asal kampung Nafri. “Mau saya foto. Sekaligus berusaha mengenal binatang apa saja yang menghuni di hutan Mahawu ini” tegas saya.



Jejak langkah kami makin lama makin tak ketara karena kami harus melewati semak belukar dan jalan tanah yang makin lama makin membukit. “Patokan arah jalan, adalah menyusuri jalan setapak atau jalan yang sering dilalui oleh orang-orang” kata saya memberi penjelasan. Mengapa ini saya katakan, karena saya dulu pernah berjalan dari puncak Mahawu lalu menembus hutan dan akhirnya sampai di lokasi di mana kami tinggal yaitu di jalan lingkar Timur.

Bebekal pengalaman itu, saya ajak mereka trekking menembus hutan Mahawu selain memperkenalkan lingkungan dan juga berolahraga untuk menyegarkan badan dan menghilangkan kepenatan seminggu belajar dan kerja. Refreshing di hari Minggu.

“Bapa, saya jadi ingat kampung halaman di Wamena (Lembah Baliem). Persis suasananya seperti ini. Masih semak belukar. Banyak pepohonan. Jadi rindu pulang kampung Bapa” ucap Alfeus Haselo,  dari Suku Yalli yang kampung halamannya beranama Kurima, Kabupaten Yukimo.

Memasuki hutan Mahawu kami melihat aneka macam pepohonan dan tanaman semak belukar. Beberapa di antara kami melihat pohon Cempaka, pohon Mahoni, pohon Manggis, pohon Nangka yang dugaan kami merupakan pohon reboisasi dan sudah bukan pohon hutan asli. Kami juga melihat ada yang buka ladang di hutan dengan bercocok tanam sayuran seperti sawi, jagung, buah jipang, kacang panjang, rica rawit, dll. Sayang, ladang mereka kelihatan tak terawat dan dibiarkan begitu saja.

Di tengah hutan itu, kami menemukan papan nama kegiatan “Pembuatan Hutan Rakyat” yang dikelola oleh Kelompok Tani Mahawu Jaya dengan biaya Rp. 32.995.783,- Ada 1000 bibit batang pohon Cempaka dan Mahoni yang ditanam. Sejauh mata memandang ke kanan-kiri, kami hanya melihat semak belukar yang dugaan kami menutupi bibit yang ditanam.

Tak lama kemudian, kami menjumpai sebuah pondok yang tampaknya bukan hanya untuk berteduh tetapi untuk tempat tinggal. Di kanan kiri pondok itu, dipakai untuk bercocok tanam sayuran. Ketika kami melewati pondok itu, kami disambut dengan gonggongan anjing. Tak urung, Om yang punya pondok keluar dan menyapa kami.

“Dari mana kang?” “Dari Kakaskasen, Om. Ini lagi jalan-jalan refreshing maso hutang” jawab saya. “Kalau ke kanan ke mana Om?” “Ke puncak Gunung””Ke kiri?” “Bisa tembus ke jalan Lingkar Timur”. “Makase ya Om. Selamat hari Minggu” “Selamat Hari Minggu juga”.

Trekking ke hutan Mahawu kami lanjutkan. Sempat kami juga bingung mencari jalan keluar dari hutan. Kami tidak bawa kompas atau GPS. Yang kami andalkan adalah jalan setapak hutan yang terlihat bekas-bekas jalan roda (gerobak sapi) dan sepeda motor trail. Selain tanda-tanda itu, kami juga mengikuti jalan di mana air mengalir. Akhirnya kami pun lega, menemukan jalan keluar dan tiba di jalan aspal yang masyarakat bilang jalan Kampung Kali.

Beberapa serangga yang sempat kami foto adalah belalang, berbagai jenis laba-laba, capung merah, lalat merah, serangga lain yang tak tahu namanya. Uniknya ada beberapa serangga yang sering kami jumpai seperti “walangsangit” warna orange.

“Bagaimana perjalanan trekking tadi?” tanya saya setelah mereka sampai di rumah. “Asyiiik Bapa. Waktu di dalam hutan nggak terasa lelah, tapi ketika sudah sampai di jalan beraspal, wouwww terasa jauhs sekali” ungkap Sita Wenda, asal suku Lanny dari Kampung Phirami, Kabupaten Jayawijaya, Papua.

Hampir empat jam kami berjalan menembus hutan Mahawu. Semuanya merasa lelah namun wajah mereka tampak gembira dan segar setelah menjelajahi hutan mahawu. “Rindu kampung terobati sudah dan kami merasa segar setelah seminggu berkutat dalam pelajaran di sekolah” lanjut Sita. Seketika itu juga hujan deras mengguyur kami padahal sekitar dua ratus meter kami tiba di Alamanda. Spontan kami berteriak sambil berlari-lari dan terengah-engah menembus lebatnya hujan.




Saat ini, cuaca di seluruh Indonesia, memang sedang tidak bersahabat. Dari jejaring sosial dan media massa, disebutkan hampir di seluruh Indonesia banyak turun hujan. Tak ajal, beberapa kota dilanda banjir seperti di Jakarta, Jayapura, Semarang, Manado dan beberapa kota lain.

Meski demikian, pada hari Minggu (20/1) saya dan 8 siswa yang berasal dari Papua, mengadakan trekking ke Hutan Mahawu. Kami berangkat dari Alamanda pada pukul setengah sepuluh. Sehabis sarapan nasi goreng dengan lauk telur mata sapi, kami bersiap untuk menembus hutan Mahawu yang berada di belakang tempat tinggal kami.

Saat kami mau berangkat, mentari telah menyapa kami dengan sinarnya. Kehangatannya membakar adrenalin kami untuk segera berangkat. “Kalau hujan bagaimana Bapa?” kata Eramona yang kemudian diiyakan oleh teman-teman lainnya. “Yakin saja pasti tidak hujan” jawab saya. Wajar, kalau kami cemas karena memang saat ini musim penghujan.


Tas Kamera slempang dan tripod tak lupa saya bawa. Dengan mengenakan celana pendek dan sepatu olah raga (ada 2 siswa yang pakai sandal) kami berangkat melalui jalan setapak untuk masuk hutan Mahawu. Hutan yang kam jelajahi itu, berada di lereng Gunung Mahawu sebelah barat dengan ketinggian kurang lebih 1100 m dpl. Meski panas terasa di badan, namun kesejukan dan udara pegunungan masih kami rasakan dengan nyaman.

“Tolong kalau melihat binatang yang unik beritahu saya ya” seru saya kepada para siswa. “Untuk apa Bapa?” tanya Marwan Awi, pemuda dari Suku Awi, asal kampung Nafri. “Mau saya foto. Sekaligus berusaha mengenal binatang apa saja yang menghuni di hutan Mahawu ini” tegas saya.

Jejak langkah kami makin lama makin tak ketara karena kami harus melewati semak belukar dan jalan tanah yang makin lama makin membukit. “Patokan arah jalan, adalah menyusuri jalan setapak atau jalan yang sering dilalui oleh orang-orang” kata saya memberi penjelasan. Mengapa ini saya katakan, karena saya dulu pernah berjalan dari puncak Mahawu lalu menembus hutan dan akhirnya sampai di lokasi di mana kami tinggal yaitu di jalan lingkar Timur.


Bebekal pengalaman itu, saya ajak mereka trekking menembus hutan Mahawu selain memperkenalkan lingkungan dan juga berolahraga untuk menyegarkan badan dan menghilangkan kepenatan seminggu belajar dan kerja. Refreshing di hari Minggu.

“Bapa, saya jadi ingat kampung halaman di Wamena (Lembah Baliem). Persis suasananya seperti ini. Masih semak belukar. Banyak pepohonan. Jadi rindu pulang kampung Bapa” ucap Alfeus Haselo,  dari Suku Yalli yang kampung halamannya beranama Kurima, Kabupaten Yukimo.

Memasuki hutan Mahawu kami melihat aneka macam pepohonan dan tanaman semak belukar. Beberapa di antara kami melihat pohon Cempaka, pohon Mahoni, pohon Manggis, pohon Nangka yang dugaan kami merupakan pohon reboisasi dan sudah bukan pohon hutan asli. Kami juga melihat ada yang buka ladang di hutan dengan bercocok tanam sayuran seperti sawi, jagung, buah jipang, kacang panjang, rica rawit, dll. Sayang, ladang mereka kelihatan tak terawat dan dibiarkan begitu saja.

Di tengah hutan itu, kami menemukan papan nama kegiatan “Pembuatan Hutan Rakyat” yang dikelola oleh Kelompok Tani Mahawu Jaya dengan biaya Rp. 32.995.783,- Ada 1000 bibit batang pohon Cempaka dan Mahoni yang ditanam. Sejauh mata memandang ke kanan-kiri, kami hanya melihat semak belukar yang dugaan kami menutupi bibit yang ditanam.

Tak lama kemudian, kami menjumpai sebuah pondok yang tampaknya bukan hanya untuk berteduh tetapi untuk tempat tinggal. Di kanan kiri pondok itu, dipakai untuk bercocok tanam sayuran. Ketika kami melewati pondok itu, kami disambut dengan gonggongan anjing. Tak urung, Om yang punya pondok keluar dan menyapa kami.

“Dari mana kang?” “Dari Kakaskasen, Om. Ini lagi jalan-jalan refreshing maso hutang” jawab saya. “Kalau ke kanan ke mana Om?” “Ke puncak Gunung””Ke kiri?” “Bisa tembus ke jalan Lingkar Timur”. “Makase ya Om. Selamat hari Minggu” “Selamat Hari Minggu juga”.

Trekking ke hutan Mahawu kami lanjutkan. Sempat kami juga bingung mencari jalan keluar dari hutan. Kami tidak bawa kompas atau GPS. Yang kami andalkan adalah jalan setapak hutan yang terlihat bekas-bekas jalan roda (gerobak sapi) dan sepeda motor trail. Selain tanda-tanda itu, kami juga mengikuti jalan di mana air mengalir. Akhirnya kami pun lega, menemukan jalan keluar dan tiba di jalan aspal yang masyarakat bilang jalan Kampung Kali.

Beberapa serangga yang sempat kami foto adalah belalang, berbagai jenis laba-laba, capung merah, lalat merah, serangga lain yang tak tahu namanya. Uniknya ada beberapa serangga yang sering kami jumpai seperti “walangsangit” warna orange.

“Bagaimana perjalanan trekking tadi?” tanya saya setelah mereka sampai di rumah. “Asyiiik Bapa. Waktu di dalam hutan nggak terasa lelah, tapi ketika sudah sampai di jalan beraspal, wouwww terasa jauhs sekali” ungkap Sita Wenda, asal suku Lanny dari Kampung Phirami, Kabupaten Jayawijaya, Papua.

Hampir empat jam kami berjalan menembus hutan Mahawu. Semuanya merasa lelah namun wajah mereka tampak gembira dan segar setelah menjelajahi hutan mahawu. “Rindu kampung terobati sudah dan kami merasa segar setelah seminggu berkutat dalam pelajaran di sekolah” lanjut Sita. Seketika itu juga hujan deras mengguyur kami padahal sekitar dua ratus meter kami tiba di Alamanda. Spontan kami berteriak sambil berlari-lari dan terengah-engah menembus lebatnya hujan.