STUDI KE JERMAN? SIAPA TAKUT

“Tak hanya Jerman, tapi mereka juga dikirim untuk studi di Belanda, Inggris, Perancis dan negara Eropa lainnya” ungkap Elkana

GUTEN MORGEN PAPUA

Tanah Papua tanah yang kaya/surga kecil jatuh ke bumi/Seluas tanah sebanyak madu/adalah harta harapan” .

MENGENAL KAMPUS LIP

Terletak di komplek persekolahan SMP dan SMA Lokon St. Nikolaus Tomohon, yang kurang lebih 7 km dari Gunung Lokon, kampus ini ramai jika KBM sedang berlangsung. Tercatat di tahun ini ada 500 siswa lebih sedang belajar di Losnito.

REKREASI KE PULAU LIHAGA

Sabtu (31/3) yang lalu saya dengan rombongan LIP berjumlah 17 orang, mengisi waktu libur Paskah untuk berwisata ke pulau Lihaga

EVALUASI LIP 2012/2013

LIP adalah program pre-university yang dilaksnakan atas MOU dengan IDEA dan dilengkapi Yayasan Pola Harapan Papua.

Showing posts with label Fieldtrip. Show all posts
Showing posts with label Fieldtrip. Show all posts

09 May 2013

My Experience with LIP, By Klant Tabuni


LIP - As long as six month ago, from November 31, 2012 until April 30, 2013, I went to Tomohon for study in Lokon High School Campus. During to study in Lokon, I had many experiences in my life.  I was prepared to study in LIP (Losnito Intensive Program). Some teachers were hardly to teach us every day.

Thanks you very much for all of my teachers, because of teach me very humble. You know firstly I felt very stupid, at the first time I came to Manado, North Sulawesi after leaving from Jayapura, West Papua. I think firstly I do not understand about English Language yet.

In the early I’m very difficult to learn English lesson. I did not forget when my two teachers Sir David, and Miss Grace Nelwan give students to translate a letter in Indonesia language, word by word. But, I’m very difficult to do that, so I said to Sir David, “Sir I’m sorry before. I give up to do this working for translate the words.  I do not understand and I don’t know an poor in the vocabulary. Very difficult to translate the words of letter”!

Sir. David gave some comments to me, “Yes I know of course, all of you have very difficult to do that, but I certainly as long as your studied one by one I believed and sure your will understand and your can translate all of words”. And finally until now, I always try to do the work well and I try to translate over all step by step although I rarely made many mistakes. In my heart, I must understand English language very well in the future.

Not only about English lesson. I also did not know about Mathematica lesson. Remember in the past, when I was junior high school and senior high school I’m rarely learned about Mathematica.
When the team teachings of Math teach us in the classroom, I try to learn the match hardly. But I did know how to understand all; it was very difficult to do in worksheets. i come back to the dormitory, I bring out the terrible situation. That’s why I can not sleep well.

Once upon time, when I can not sleep, I go out from my room and  I sit down on  the terrace. In my mind, how stupid I realize my self at this time because of Math homework that I can’t do it. I judge my self, surely I’m dislike the subject of Math.

After years ago, I and my friends have a chance to go to Manado. As you know, I took a short course to follow LIP’s program and the program held in St Nikolaus Lokon High School. In the beginning I study in Lokon, it was very surprise to me because in the schedule I saw one of the lessons, I mus study again the Math. 

Oh my God, I hate Math. This lesson make very upset!  As I said, I do not like to learn Math.
Anyway as long as I went to school to follow the LIP’s program, step by step and my friend come to help me about Math. In fact, all my Math teachers try to teach us honestly and loyalty heart. Day by day, I begin to open my mind and start to lke Math lesson. Finally, I can do the Math homework. Then I understand how to do that and for me it was not difficult again at the time. I did not forget when I was high school, Math was one of very difficult lesson. Right now, I’m very happy to study Math. That is why I feel very much different experiences when I was studying in Lokon high school.

Oh ya, I have other experiences, when I and our friends got a filed-trip tour in hotels, hospital, and canning fish, and visit the places to have fun recreation. I remember it was very happy when I take a bath shower in beach, swimming pool, and Lihaga Island. All of my experiences made me more fun and happy.

Finally, I would like to say that from all the staff, employees and students of high school is always on time! All of the staff and employees are very honest, loyalty because of  that I am very impressive that I never forget all of your kindness. Thank you and see you again! (*** klant)

25 February 2013

SIswa LIP TP. 2012-2013


LIP - Berikut ini daftar nama student LIP Angkatan 2012

(1) Elkana Ginia, lahir di Hetuima, tanggal 25 Februari 1994, asal Keerom, usia 17 tahun, anak pertama,  punya adik perempuan berumur 7 tahun. Cita-citanya ke Jerman untuk studik kedokteran dan kemudian mengambil spesialis Kulit dan Kelamin. Elkana termotivasi dengan kondisi kesehatan orang Papua yang minim akan fasilitas dan pengetahuan tentang hidup sehat.

(2) Helen Wenda, lahir di Sinakma, 22 April 1994, asal Wamena, suku Dani dan tinggal di Setani, Jayapura, Papua, tepatnya di Kampung Doyo Baru bersama krdua orang tuanya. Anak ke dua dari 6 saudara ini bercita-cita kuliah di Kedokteran.

(3) Klant Tabuni, asal Kampung Bolakme, Wamena. Lahit tanggal 19 Agustus 1994, Orang tuanya, Kayus Tabuni dan Losata Yikma serta ke empat saudaranya yaitu Aselena, Nuslin, Kalpina, Krist sangat mendukung Klant untuk studi lanjut ke Jerman. “Nombae Allah wo”.

(4) Bertha Lagowan, lahor di Sentani, 18 April 1995, yang sering dipanggil Etha, berasal dari Wamena, desa Pugima. Ayahnya seorang pendeta. Karena tugas dan pelayan ayahnya di Jayapura, Etha sejak lulus SD sudah di Jayapura. Ke Jerman, Etha akan mengambil kuliah kedokteran. Kekurangan tenaga medis di Papua dan ingin menolong masyarakat dalam kesehatan, menjadi alasannya kuliah di kedokteran.

(5) Annas Kulingga, Pyramid, 4 Nopember 1988, asal dari suku Dani, Wamena Barat, anak pertama dari 3 bersaudara. Pekerjaan orang tuanya adalah petani. Annas ingin kuliah ke Jerman untuk memperdalam ekonomi Bisnis. Alasannya, pekerjaan masyarakat sebagai petani, tidak bisa membuat sejahtera apalagi kaya. Meningkatkan sumber daya manusia di kampungya menjadi dorong mengapa ia ingin kuliah di Jerman.

(6) Sita Wenda, lahir di Jayapura, 8 Mei 1993, hari-hari dipanggil Sita atau Lanny. Ia berasal Phyramid, Kabupaten Jayawijaya, Papua. Mempunyai 3 saudara dan tinggal di jayapura.  Sebelum ke Manado, Sita sempat kuliah di Universitas Cendrawasih (Uncen) ambil jurusan accounting.  Saat ditanya soal kuliah di Jerman nati, Sita akan mengambil kedokteran meski dulu di SMA mengambil jurusan Sosial.

(7) Alfeus Haselo, Kurima, 30 April, anak suku Yalli dari Kurima, Yahukima, lulusan sekolah SMK YPK Jayapura, jurusan Akutansi, Studi ke luar negeri sudah lama diidamkan sejak SMP kelas 1. Jurusan Bisnis menjadi incarannya setelah selesai program persiapan ke Jerman.

(8) Yepri Komba, Papua, 5 Mei 1990, persiapan studi ke Jerman mengingatkan saat pertama kali bertemu dengan bule (turis asing) saat kelas 3 SD. "Dari mana bule ini?" tanyanya. Jeffry dibesarkan dari keluarga penginjil dan anak ke 3 dari 4 bersaudara. Jurusan yang dipilihnya kelak di Jerman adalah Ekonomi bisnis. Cita-cita sekembalinya dari studi nanti adalah menjadi Gubenur dan Bupati.

(9) Eta Eramona Tabuni, Tagime, 7 April 1995 berasal dari pegunungan (lembah) Baliem yang sekarang dikenal dengan kabupaten Jayawijaya. Kampungnya ada di Pyramid. Anak pertama dari 5 bersuadara ini pernah berpikir ke luar negeri ketika masih di SD. Bisa ikut LIP untuk persiapan studi lanjut di Jerman merupakan anugerah Tuhan tersendiri. Pengalaman mengikuti seleksi hingga dua kali memotivasi dirinya untuk belajar dan membuktikan bahwa dirinya bisa ke Jerman.

(10) Adolof Wetipo,30 April 1994 dari Propinsi Papua, Kabupaten Wamena (Yahukima, pemekaran dari Wamena), Kecamatan Kurima, Kelurahan Obalma, Desa Wulik, dulu masuk desa Anyelma. Menjadi orang sukses dengan studi di Jerman, menjadi motivasi kuat Adolof.

(11) Marwan Hirata Awi, 24 tahun, datang dari Jayapura, persisnya dari Kampung Nafri. Marwan, demikian nama panggilannya, berasal dari Suku Awi. Anak ke 4 dari 6 bersaudara ini bercita-cita kuliah di Jerman awalnya adalah ajakan dari Bapaknya Beto untuk ikut tes. Puji Tuhan akhirnya bisa lulus dan ikut program persiapan ke Jerman.

(12) Melianus Tabuni, dipanggil Meli dari suku Dani, tapi lahir di Bolakne, dan akan memilih jurusan Tehnik Mesin bila sampai di Jerman.



Table Manner, Pelajaran Sikap Yang Dilupakan


   
Kemendikbud RI telah memberi aba-aba bahwa pada Tahun Pengajaran (TP) 2013-2014, kurikulum baru pengganti KTSP akan dilaksanakan (Ad Experimentum) mulai dari SD dan selanjutnya SMP, SMA/SMK. Tak ada riak-riak penolakan atas kebijakan perubahan Kurikulum di kalangan akademisi, penyelenggara pendidikan atau pun pengguna jasa pendidikan (orang tua dan peserta didik).

Pembicaraan tentang Kurikulum Baru itu, mengedepankan “softskill” (kecakapan hidup) daripada “hardskill” (berbasis kompetensi sains). Tawuran pelajar/mahasiswa hingga memakan korban peserta didik dan “bullying” setidak-tidaknya memacu perubahan kurikulum itu yang digagas oleh Kemendikbud. Dengan kata lain sekolah memiliki rapor merah terhadap pelaksanaan “pendikar” (Pendidikan Karakter) siswa. 


“Bagi saya, pelajaran anti korupsi di sekolah masih membingungkan. Susah buat RPP untuk pelajaran ini. Saat saya merumuskan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasarnya saya masih bingung. Apalagi membuat Indikator Pencapaian Kompetensi. Padahal maksud dan tujuan materi “anti korupsi” sebenarnya sudah tahu” cerita Ibu Connie ketika berdiskusi tentang pendikar beberapa waktu lalu saat rehat dari mengajar bahasa Jerman.

Tidak gampang membuat RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) untuk materi ajar terkait dengan “softskill”.  Pengalaman ini juga saya alami ketika Minggu yang lalu (18/11) mengajak 13 siswa Papua yang disiapkan untuk studi lanjut ke Jerman, untuk mengikuti pelatihan “table manner” di Hotel Peninsula Manado.

Siang itu, pukul 10.15, saya dan rombongan diterima dengan ramah di lobby hotel oleh Bapak I Putu Anom, Manager Director Food and Beverage Sintesa Peninsula Hotel, Caroline Septiana Sondakh, Sales Executive dan empat staffnya. Selanjutnya kami diarahkan ke lantai dua di ruangan Allamanda untuk mengikuti pelatihan table manner. Sejuknya ruangan ber-AC sejenak hilangkan penat perjalanan dan gerahnya panas Manado.

“Table Manner adalah cara bersikap dan berperilaku di meja makan” kata Putu Anom mengawali pelatihan di hadapan 13 siswa Losnito Intensive Program, dan 5 tim pendamping lainnya melalui LCD Projector. Dalam pelatihan itu, pak Putu ditemani 4 manager dan 2 koki yang membantu pelatihan table manner. Saat presentasi, suasana sedikit tegang. Bayangkan saja, para studen yang saya bawa berasal dari Jayapura, Kerom, Jahu, Wamena dan baru pertama kali ikut pelatihan di hotel berbintang.
Mereka terbiasa makan dengan lahap dan banyak. Kini dalam pelatihan, mereka dilatih bagaimana makan ber-etiket. Mereka harus memperhatikan bagaimana cara duduk, cara memakai serbet, cara berbicara, cara menggunakan alat makan, cara menghidangkan makanan, cara menggunakan alat makan di atas meja dengan menu yang disajikan, cara minum.

“Wouw, baru kali ini saya tahu dan paham bahwa di dunia International ada etiket atau tata krama orang makan” komentar Elkana Ginia, asal Keerom, yang saat di SMA Negeri 1 Arso menjadi salah satu tim pembuat Video Remaja Inspiratif 2012, yang berjudul “Ada Apa Deng Kitorang Pu Sekolah”.

“Table Manner itu membuat saya sadar akan sikap saya selama ini dalam hal makan. Saya akui saya salah dalam cara duduk yang kadang angkat kaki saat duduk di kursi. Ngobrol saat masih mengunyah juga sering tak sadar saya lakukan. Begitu pula cara minum yang langsung digelontorkan ke mulut hingga berbunyi. Ahhhh….. hebat pokoknya pelatihan ini” kata Egi nama panggilan Elkana sambil mengingat apa yang diajarkan oleh Pak Putu tentang cara minum beretiket. Pegang bagian bawah gelas berkaki, pastikan mulut bebas dari makanan saat minum, lap bibir sebelum minum supaya tidak meninggalkan bekas pada bibir gelas. Hindarkan bunyi pada waktu meminum. Jangan berkumur jika sedang minum.


Setiap peserta duduk di meja bundar berkapasitas 6 tempat duduk.  Ada tiga meja bundar disiapkan. Di setiap tempat duduk sudah diset-up peralatan makan seperti apetizer knife, soup soon, apatizer knife, napkin, dinner fork, apetizer fork, b&b plate, desert fork. desert spoon. Setiap meja sudah diset-up dengan peralatan makanan dan informasi menu makanan yang akan dipratekkan. Tertulis dalam menu itu, mulai dari appetizer, soup, main course, desert. Secara berurutan menu itu disajikan seiring dengan cara menghidangkan dan menggunakan alat makan sesuai dengan menu yang disajikan.

“Bertha, kok kelihatan tegang sih cara kamu makan” kata salah satu waiters saat melihat peserta tampak kaku menggunakan alat makan. Bertha yang disapa, tampak tersenyum. Ia menyadari ketegangannya saat mempratekkan berbagai macam jenis alat makan dengan berbeda fungsi dan sekali pakai.

“Macam-macam jenis alat makan itu, bikin saya tegang. Tapi itulah cara mengenal standar makan secara Internasional. Terus terang baru pertama kali saya pegang barang-barang itu. Ternyata urutan makan pun diatur. Saya jadi ingat kalau breakfast di Hotel dengan model buffee yang sediakan berbagai macam makan. Besok kalau saya mau inap di hotel berbintang, pelajaran table manner akan saya pratekkan. Yang mana dulu yang saya makan. Hahaha saya sering makan buah dulu karena takut kehabisan” kata Bertha yang sejak SMP pindah dari Wamena ke Jayapura, sambil ketawa mengingat kebiasaan lamanya yang makan tanpa berurutan seperti itu.

Bagi sebagian besar peserta, pelatihan Table Manner memang mengubah mindset dalam hal makan, khususnya santun beretiket dalam makan. Berperilaku sopan dalam makan, setidak-tidaknya tidak mempertentangkan budaya yang dibawa oleh setiap peserta tetapi berkontribusi dalam membangun budaya yang maju dan baik seiring dengan pergaulannya di dunia Internasional kelak jika mereka sampai di Jerman untuk studi.

Pelatihan table manner di Sintesa Peninsula juga dilengkapi dengan melihat langsung bagaimana pihak hotel mensetting fasilitas president suite room yang berharga mulai 7 juta semalam hingga dua juta per malam.  Karena baru pertama kali masuk di ruang sangat eksklusif yang katanya pemandu, pernah dipakai oleh Presiden RI, maka para peserta memanfaatkan untuk berfoto ria. Melihat fasilitas kamar  yang lengkap itu, serentak bilang woouwww…

Sebenanrya pelatihan di hotel disepakati, 2 jam teori 1 jam pratek. Namun nyatanya kami meninggalkan hotel pada pukul 16.00 artinya hampir lima jam lebih kami berada di hotel. Ini disebabkan oleh antusias para peserta yang aktif dalam diskusi dan tanya jawab. Mengubah sikap dan karakter mereka dalam etika makan, memang berbenturan dengan budaya yang dibawa oleh para peserta. Namun buka berarti tidak bisa. Itulah makna pembelajaran yang perlu ditindaklanjuti dalam kehidupan kesehariannya.

“Tata krama dalam makan ternyata ada ya Pak. Sangat bermanfaat mengikuti pelatihan table manner di hotel kemarin” kata Alfeus Haselo yang diiyakan oleh teman-temannya setibanya di asrama. Saya kemudian membayangkan, seandainya tata krama itu menjadi materi ajar di sekolah-sekolah, ada harapan kecakapan hidup student bisa masuk dalam Kurikulum Baru.  

Note: Dinner Meeting Package Rp. 165.000,- net/person/day, 1 time Buffet Lunch or dinner, Free function room usage for max 4 hours.

23 February 2013

Jelajah Alam: Menembus Hutan Mahawu


Saat ini, cuaca di seluruh Indonesia, memang sedang tidak bersahabat. Dari jejaring sosial dan media massa, disebutkan hampir di seluruh Indonesia banyak turun hujan. Tak ajal, beberapa kota dilanda banjir seperti di Jakarta, Jayapura, Semarang, Manado dan beberapa kota lain.


Meski demikian, pada hari Minggu (20/1) saya dan 8 siswa yang berasal dari Papua, mengadakan trekking ke Hutan Mahawu. Kami berangkat dari Alamanda pada pukul setengah sepuluh. Sehabis sarapan nasi goreng dengan lauk telur mata sapi, kami bersiap untuk menembus hutan Mahawu yang berada di belakang tempat tinggal kami.

Saat kami mau berangkat, mentari telah menyapa kami dengan sinarnya. Kehangatannya membakar adrenalin kami untuk segera berangkat. “Kalau hujan bagaimana Bapa?” kata Eramona yang kemudian diiyakan oleh teman-teman lainnya. “Yakin saja pasti tidak hujan” jawab saya. Wajar, kalau kami cemas karena memang saat ini musim penghujan.

Tas Kamera slempang dan tripod tak lupa saya bawa. Dengan mengenakan celana pendek dan sepatu olah raga (ada 2 siswa yang pakai sandal) kami berangkat melalui jalan setapak untuk masuk hutan Mahawu. Hutan yang kam jelajahi itu, berada di lereng Gunung Mahawu sebelah barat dengan ketinggian kurang lebih 1100 m dpl. Meski panas terasa di badan, namun kesejukan dan udara pegunungan masih kami rasakan dengan nyaman.

“Tolong kalau melihat binatang yang unik beritahu saya ya” seru saya kepada para siswa. “Untuk apa Bapa?” tanya Marwan Awi, pemuda dari Suku Awi, asal kampung Nafri. “Mau saya foto. Sekaligus berusaha mengenal binatang apa saja yang menghuni di hutan Mahawu ini” tegas saya.



Jejak langkah kami makin lama makin tak ketara karena kami harus melewati semak belukar dan jalan tanah yang makin lama makin membukit. “Patokan arah jalan, adalah menyusuri jalan setapak atau jalan yang sering dilalui oleh orang-orang” kata saya memberi penjelasan. Mengapa ini saya katakan, karena saya dulu pernah berjalan dari puncak Mahawu lalu menembus hutan dan akhirnya sampai di lokasi di mana kami tinggal yaitu di jalan lingkar Timur.

Bebekal pengalaman itu, saya ajak mereka trekking menembus hutan Mahawu selain memperkenalkan lingkungan dan juga berolahraga untuk menyegarkan badan dan menghilangkan kepenatan seminggu belajar dan kerja. Refreshing di hari Minggu.

“Bapa, saya jadi ingat kampung halaman di Wamena (Lembah Baliem). Persis suasananya seperti ini. Masih semak belukar. Banyak pepohonan. Jadi rindu pulang kampung Bapa” ucap Alfeus Haselo,  dari Suku Yalli yang kampung halamannya beranama Kurima, Kabupaten Yukimo.

Memasuki hutan Mahawu kami melihat aneka macam pepohonan dan tanaman semak belukar. Beberapa di antara kami melihat pohon Cempaka, pohon Mahoni, pohon Manggis, pohon Nangka yang dugaan kami merupakan pohon reboisasi dan sudah bukan pohon hutan asli. Kami juga melihat ada yang buka ladang di hutan dengan bercocok tanam sayuran seperti sawi, jagung, buah jipang, kacang panjang, rica rawit, dll. Sayang, ladang mereka kelihatan tak terawat dan dibiarkan begitu saja.

Di tengah hutan itu, kami menemukan papan nama kegiatan “Pembuatan Hutan Rakyat” yang dikelola oleh Kelompok Tani Mahawu Jaya dengan biaya Rp. 32.995.783,- Ada 1000 bibit batang pohon Cempaka dan Mahoni yang ditanam. Sejauh mata memandang ke kanan-kiri, kami hanya melihat semak belukar yang dugaan kami menutupi bibit yang ditanam.

Tak lama kemudian, kami menjumpai sebuah pondok yang tampaknya bukan hanya untuk berteduh tetapi untuk tempat tinggal. Di kanan kiri pondok itu, dipakai untuk bercocok tanam sayuran. Ketika kami melewati pondok itu, kami disambut dengan gonggongan anjing. Tak urung, Om yang punya pondok keluar dan menyapa kami.

“Dari mana kang?” “Dari Kakaskasen, Om. Ini lagi jalan-jalan refreshing maso hutang” jawab saya. “Kalau ke kanan ke mana Om?” “Ke puncak Gunung””Ke kiri?” “Bisa tembus ke jalan Lingkar Timur”. “Makase ya Om. Selamat hari Minggu” “Selamat Hari Minggu juga”.

Trekking ke hutan Mahawu kami lanjutkan. Sempat kami juga bingung mencari jalan keluar dari hutan. Kami tidak bawa kompas atau GPS. Yang kami andalkan adalah jalan setapak hutan yang terlihat bekas-bekas jalan roda (gerobak sapi) dan sepeda motor trail. Selain tanda-tanda itu, kami juga mengikuti jalan di mana air mengalir. Akhirnya kami pun lega, menemukan jalan keluar dan tiba di jalan aspal yang masyarakat bilang jalan Kampung Kali.

Beberapa serangga yang sempat kami foto adalah belalang, berbagai jenis laba-laba, capung merah, lalat merah, serangga lain yang tak tahu namanya. Uniknya ada beberapa serangga yang sering kami jumpai seperti “walangsangit” warna orange.

“Bagaimana perjalanan trekking tadi?” tanya saya setelah mereka sampai di rumah. “Asyiiik Bapa. Waktu di dalam hutan nggak terasa lelah, tapi ketika sudah sampai di jalan beraspal, wouwww terasa jauhs sekali” ungkap Sita Wenda, asal suku Lanny dari Kampung Phirami, Kabupaten Jayawijaya, Papua.

Hampir empat jam kami berjalan menembus hutan Mahawu. Semuanya merasa lelah namun wajah mereka tampak gembira dan segar setelah menjelajahi hutan mahawu. “Rindu kampung terobati sudah dan kami merasa segar setelah seminggu berkutat dalam pelajaran di sekolah” lanjut Sita. Seketika itu juga hujan deras mengguyur kami padahal sekitar dua ratus meter kami tiba di Alamanda. Spontan kami berteriak sambil berlari-lari dan terengah-engah menembus lebatnya hujan.




Saat ini, cuaca di seluruh Indonesia, memang sedang tidak bersahabat. Dari jejaring sosial dan media massa, disebutkan hampir di seluruh Indonesia banyak turun hujan. Tak ajal, beberapa kota dilanda banjir seperti di Jakarta, Jayapura, Semarang, Manado dan beberapa kota lain.

Meski demikian, pada hari Minggu (20/1) saya dan 8 siswa yang berasal dari Papua, mengadakan trekking ke Hutan Mahawu. Kami berangkat dari Alamanda pada pukul setengah sepuluh. Sehabis sarapan nasi goreng dengan lauk telur mata sapi, kami bersiap untuk menembus hutan Mahawu yang berada di belakang tempat tinggal kami.

Saat kami mau berangkat, mentari telah menyapa kami dengan sinarnya. Kehangatannya membakar adrenalin kami untuk segera berangkat. “Kalau hujan bagaimana Bapa?” kata Eramona yang kemudian diiyakan oleh teman-teman lainnya. “Yakin saja pasti tidak hujan” jawab saya. Wajar, kalau kami cemas karena memang saat ini musim penghujan.


Tas Kamera slempang dan tripod tak lupa saya bawa. Dengan mengenakan celana pendek dan sepatu olah raga (ada 2 siswa yang pakai sandal) kami berangkat melalui jalan setapak untuk masuk hutan Mahawu. Hutan yang kam jelajahi itu, berada di lereng Gunung Mahawu sebelah barat dengan ketinggian kurang lebih 1100 m dpl. Meski panas terasa di badan, namun kesejukan dan udara pegunungan masih kami rasakan dengan nyaman.

“Tolong kalau melihat binatang yang unik beritahu saya ya” seru saya kepada para siswa. “Untuk apa Bapa?” tanya Marwan Awi, pemuda dari Suku Awi, asal kampung Nafri. “Mau saya foto. Sekaligus berusaha mengenal binatang apa saja yang menghuni di hutan Mahawu ini” tegas saya.

Jejak langkah kami makin lama makin tak ketara karena kami harus melewati semak belukar dan jalan tanah yang makin lama makin membukit. “Patokan arah jalan, adalah menyusuri jalan setapak atau jalan yang sering dilalui oleh orang-orang” kata saya memberi penjelasan. Mengapa ini saya katakan, karena saya dulu pernah berjalan dari puncak Mahawu lalu menembus hutan dan akhirnya sampai di lokasi di mana kami tinggal yaitu di jalan lingkar Timur.


Bebekal pengalaman itu, saya ajak mereka trekking menembus hutan Mahawu selain memperkenalkan lingkungan dan juga berolahraga untuk menyegarkan badan dan menghilangkan kepenatan seminggu belajar dan kerja. Refreshing di hari Minggu.

“Bapa, saya jadi ingat kampung halaman di Wamena (Lembah Baliem). Persis suasananya seperti ini. Masih semak belukar. Banyak pepohonan. Jadi rindu pulang kampung Bapa” ucap Alfeus Haselo,  dari Suku Yalli yang kampung halamannya beranama Kurima, Kabupaten Yukimo.

Memasuki hutan Mahawu kami melihat aneka macam pepohonan dan tanaman semak belukar. Beberapa di antara kami melihat pohon Cempaka, pohon Mahoni, pohon Manggis, pohon Nangka yang dugaan kami merupakan pohon reboisasi dan sudah bukan pohon hutan asli. Kami juga melihat ada yang buka ladang di hutan dengan bercocok tanam sayuran seperti sawi, jagung, buah jipang, kacang panjang, rica rawit, dll. Sayang, ladang mereka kelihatan tak terawat dan dibiarkan begitu saja.

Di tengah hutan itu, kami menemukan papan nama kegiatan “Pembuatan Hutan Rakyat” yang dikelola oleh Kelompok Tani Mahawu Jaya dengan biaya Rp. 32.995.783,- Ada 1000 bibit batang pohon Cempaka dan Mahoni yang ditanam. Sejauh mata memandang ke kanan-kiri, kami hanya melihat semak belukar yang dugaan kami menutupi bibit yang ditanam.

Tak lama kemudian, kami menjumpai sebuah pondok yang tampaknya bukan hanya untuk berteduh tetapi untuk tempat tinggal. Di kanan kiri pondok itu, dipakai untuk bercocok tanam sayuran. Ketika kami melewati pondok itu, kami disambut dengan gonggongan anjing. Tak urung, Om yang punya pondok keluar dan menyapa kami.

“Dari mana kang?” “Dari Kakaskasen, Om. Ini lagi jalan-jalan refreshing maso hutang” jawab saya. “Kalau ke kanan ke mana Om?” “Ke puncak Gunung””Ke kiri?” “Bisa tembus ke jalan Lingkar Timur”. “Makase ya Om. Selamat hari Minggu” “Selamat Hari Minggu juga”.

Trekking ke hutan Mahawu kami lanjutkan. Sempat kami juga bingung mencari jalan keluar dari hutan. Kami tidak bawa kompas atau GPS. Yang kami andalkan adalah jalan setapak hutan yang terlihat bekas-bekas jalan roda (gerobak sapi) dan sepeda motor trail. Selain tanda-tanda itu, kami juga mengikuti jalan di mana air mengalir. Akhirnya kami pun lega, menemukan jalan keluar dan tiba di jalan aspal yang masyarakat bilang jalan Kampung Kali.

Beberapa serangga yang sempat kami foto adalah belalang, berbagai jenis laba-laba, capung merah, lalat merah, serangga lain yang tak tahu namanya. Uniknya ada beberapa serangga yang sering kami jumpai seperti “walangsangit” warna orange.

“Bagaimana perjalanan trekking tadi?” tanya saya setelah mereka sampai di rumah. “Asyiiik Bapa. Waktu di dalam hutan nggak terasa lelah, tapi ketika sudah sampai di jalan beraspal, wouwww terasa jauhs sekali” ungkap Sita Wenda, asal suku Lanny dari Kampung Phirami, Kabupaten Jayawijaya, Papua.

Hampir empat jam kami berjalan menembus hutan Mahawu. Semuanya merasa lelah namun wajah mereka tampak gembira dan segar setelah menjelajahi hutan mahawu. “Rindu kampung terobati sudah dan kami merasa segar setelah seminggu berkutat dalam pelajaran di sekolah” lanjut Sita. Seketika itu juga hujan deras mengguyur kami padahal sekitar dua ratus meter kami tiba di Alamanda. Spontan kami berteriak sambil berlari-lari dan terengah-engah menembus lebatnya hujan.

[Field Trip] Rumah Sakit Siloam Manado

Proses pembelajaran tidak hanya terjadi dalam kelas saja. Di luar kelas, di luar kampus ada banyak tempat yang layak dipakai untuk proses pembelajaran bagi para mahasiswa (student).

Minggu (17/12/2012), roda bus kecil Elf silver bergerak meninggalkan Alamanda, tempat tinggal student LIP, menuju ke pusat Manado. Saat itu, jam menunjuk pukul delapan pagi lewat dua puluh lima menit. Langit Tomohon tampak berawan. Matahari tampak enggan bersinar.

13 student LIP dan satu pendamping memenuhi bus kecil ELF menuju ke Manado dalam rangka field trip atau kunjungan belajar ke Rumah Sakit Siloam. Acara ini memang sudah dirancang jauh hari.

"Kami senang sekali menerima rombongan LIP karena ke depan kami akan membuka rumah sakit di Jayapura. Tak hanya itu saja, kami juga memiliki dokter yang asli dari Papua. Semoga dengan kunjungan para mahasiswa LIP kami bisa kerjasama dalam pemberdayaan sumber daya manuia dari Papua" jelas HRD RS Siloam, Raymond Ganda, saat dihubungi Venche, pendamping program Tabble Manner.


"Yang utama dari kegiatan field trip ini adalah proses pembelajaran secara outing agar para mahasiswa bisa memahami dan mengerti Rumah Sakit modern dengan fasilitas peralatan kedokteran yang serba canggih dan berstandard International. Jika mereka nanti studi di Jerman, paling tidak mereka sudah pernah mengenal peralatan dan pelayanan medis rumah sakit modern" kata Jimmy Pontoan, humas YPL dan sekaligus pendamping student LIP.


Sekitar 45 menit kami tiba di lobby RS Siloam di jalan Sam Ratulangi Manado, yang tak jauh dari Tugu titik nol selepas memparkirkan mobil.

Tak beberapa setelah melapor pada stapam, kami diterim oleh HDR dan kemudian diantar keliling Rumah Sakit hingga lantai ke 7.

22 February 2013

Guten Morgen, Papua!



“Tanah Papua tanah yang kaya/surga kecil jatuh ke bumi/Seluas tanah sebanyak madu/adalah harta harapan”

Syair lagu itu terdengar sedikit lirih di telinga saya bersamaan dengan deru mesin diesel minibus Elf Silver, yang mengangkut 13 mahasiswa LIP untuk field-trip ke bumi Toar Lumimuut Minahasa, Minggu lalu (4/11). Eramona, salah satu gadis Papua, mendendangkan lagu “papua” itu dengan merdu penuh penghayatan. Lagu “papua” yang dipopulerkan oleh Edo Kondologit, tak lama kemudian terdengar membahana dan menggilas suara deru mesin minibus. Serentak mereka menyanyikan lagu Papua itu.

Bersamaan dengan nyanyian itu, dari jendela minibus, tampak panorama menghijau agrowisata, tumbuh subur di setiap lekukan pada punggung pegunungan Minahasa dan sekitarnya. Perjalanan ke bukit Temboan, Rurukan, siang itu, dinikmati dalam suasana “papua”.

Tiba-tiba rem minibus berderit. Kami sudah tiba di bukit Temboan. Kami turun dan kemudian melangkah ke depan rumah panggung. Di tempat itu, sejauh mata memandang kami bisa melihat Danau Tondano, Pelabuhan Bitung, dan pegunungan Masarang, Tampusu dll. Sebelum meninggalkan bukit Temboan, kami berfoto.

 “Eh kawan, luas mana danau Setani sama danau Tondano yang ada di sebelah sana?” tanya saya kepada Jeffry Komba, ketua mereka setelah masuk kembali ke minibus. “Besar Sentani Bapa” jawabnya dengan sopan. “Oh ya?” respon saya ragu-ragu karena belum pernah melihat Danau Setani. Lalu saya berinisiatif untuk browsing di internet dengan menggunakan tablet yang saya bawa. Ternyata Danau Sentani luasnya 245.000 ha, sementara Danau Tondano luasnya 4.278 ha. “Bapak tempat tadi, bikin rindu kampung bapak. Seperti di pegunungan Wamena sudah” komentar Adolof Wetipo.

Menyusuri alam Minahasa itu bak surga kecil jatuh ke bumi.Seluas tanah sebanyak madu adalah harta harapan di masa depan bagi Eramona dan kawan-kawannya seperti lagu yang dinyanyikan tadi. Namun, harta harapan itu yang berupa tanah Papua tanah leluhur, mereka tinggalkan sejenak untuk mencari ilmu sekaligus asa di tanah seberang di Sulawesi. Mereka baru dua minggu menginjakkan kakinya di tanah Nyiur Melambai ini.

Aktivitas field trip tadi merupakan salah satu bagian dari proses pembelajaran mereka untuk mempersiapkan diri study lanjut ke German. Ada tiga belas siswa datang dari Propinsi Papua (Jayapura dan Wamena) untuk mempersiapkan diri agar bisa kuliah di German di tahun mendatang. Karena itu, LIP, tempat mereka belajar, memfasilitasi belajar mereka dengan mata kuliah antara lain bahasa German, Matematika, Biologi, Ekonomi, Fisika, Hospility dll.

“Saya ingin jadi dokter. Kalau saya ingin jadi arsitektur. Saya suka jadi dokter kandungan. Bisnis Managemen, Teknil sipil” itulah jawaban mereka ketika ditanya tentang cita-cita mereka. Meski diungkap secara spontan, paling tidak ungkapan mereka itu menjelaskan semangat dan arah hidup yang dipilih ketika mereka sudah sampai di Jerman.

“Sebelum datang ke Manado, kami di seleksi dari 106 siswa yang mendaftar. Lolos 15 siswa tapi yang datang hanya 13 siswa” cerita Adolof menceritakan betapa ketatnya seleksi. Tak hanya itu, Profesor dari German datang ke Jayapura untuk memotivasi kami.

Proses pembelajaran untuk mereka dibuat sangat intensif karena hanya enam bulan mereka disiapkan di program yang bernama LIP. Minggu pun diisi dengan pembekalan yang terkait dengan hospitality seperti table manner, hospital tour, art performance dll. Untuk table manner, sebuah hotel mewah di Manado bersedia dipakai untuk kegiatan pembelajaran.

“Kami senang menerima kedatangan para student LIP, kami berharap muncul dokter-dokter pribumi dari Papua yang ingin membangun daerahnya dengan baik. Rumah Sakit kami sudah menyiapkan program yang bernama “hospital tour” untuk mereka yang ingin mempelajari tentang seluk beluk rumah sakit. Tak hanya ceramah tetapi melihat langsung proses manajerial di rumah sakit kami” jawab Manager Rumah Sakit Manado yang bertaraf International ketika Tim Pengajar LIP memohon untuk tempat pembelajaran bagi mereka.


Lagu Papua kembali menggema ketika perjalanan kami sampai di jalan raya Kawangkoan Lahendong sebelum masuk ke Danau Linow. “Tanah Papua tanah leluhur/Di sana aku lahir/Bersama angin bersama daun/Aku dibesarkan//Hitam kulit keriting rambut aku papua/Hitam kulit keriting rambut aku papua/ Biar nanti langit terbelah aku papua…”

Mereka adalah generasi muda Papua yang meletakkan asa untuk mengembangkan karakter mereka dan menimba ilmu di negeri orang. Hanya satu cita-cita utama mereka. Setelah merantau sekitar 4-5 tahun, mereka pulang ke tanah leluluhur untuk Papua. Semangat ini memotivasi mereka dalm belajar. “Guten Morgen, Vater. Am Montag gehe ich in schule.” ucap Anas Kilungga, sambil menghafal bahasa Jerman, saat berpapasan dengan saya pagi tadi sebelum berangkat ke sekolah.