STUDI KE JERMAN? SIAPA TAKUT
“Tak hanya Jerman, tapi mereka juga dikirim untuk studi di Belanda, Inggris, Perancis dan negara Eropa lainnya” ungkap Elkana
GUTEN MORGEN PAPUA
Tanah Papua tanah yang kaya/surga kecil jatuh ke bumi/Seluas tanah sebanyak madu/adalah harta harapan” .
MENGENAL KAMPUS LIP
Terletak di komplek persekolahan SMP dan SMA Lokon St. Nikolaus Tomohon, yang kurang lebih 7 km dari Gunung Lokon, kampus ini ramai jika KBM sedang berlangsung. Tercatat di tahun ini ada 500 siswa lebih sedang belajar di Losnito.
REKREASI KE PULAU LIHAGA
Sabtu (31/3) yang lalu saya dengan rombongan LIP berjumlah 17 orang, mengisi waktu libur Paskah untuk berwisata ke pulau Lihaga
EVALUASI LIP 2012/2013
LIP adalah program pre-university yang dilaksnakan atas MOU dengan IDEA dan dilengkapi Yayasan Pola Harapan Papua.
Showing posts with label Lokon. Show all posts
Showing posts with label Lokon. Show all posts
10 May 2013
My experience with LIP Program by Bertha
"Blessing for future generations" said Wenda Helen
LIP - My name is Wenda Helen. I come from Jayapura. Papua. I am a
student in Lokon and then I stay at
Lokon Resort with my friends from Papua . We are 12 students come from Jayapura.
Then my advice to teachers Lokon ‘’continue to be a channel of blessing for future generations who want to learn from you’’. There is no finish or final word beautiful word, to thank all those who took part in the program LIP.
Since six month ago, I am one of participants
in Losnito Intensive Program (LIP) at Lokon. In this program, we are prepared to continue
our study in German University. I will take the medical school, especially a
heart specialist in Papua. Helping in healthy for my people in Papua, it become
my motivation to study in medical program.
When I arrive to Manado, some staffs of the Lokon
foundation picked up us to Tomohon by a luxury bus. At that time, I received by staff personally
so I fell impresive and I appreciated for this situation.
According to me, as long as study, the
teachers from Lokon are very good. They teach us very effective way, so we are
not very difficult to follor their teaching. I got here a great experience in
learning than before.
In my opinion, all of this doing well not because
of my ability but rather the result of cooperation with the LIP of the program
committee of teachers Lokon. I would like to thanks especially to the father almighty.
I feel very impressed with my German teachers.
Anyway. My English teachers also teach very well, because of always give a good
motivation to learn this language. Why I say likr this. In the past, I did not
like to learn a foreign language due to pass Senior High School.
The first reason, I do not understand and very
lazy to attempt learn the foreign language before. But in this time, after our
teachers teach me in LIP, I really like to learn a foreign language. In fact,
German or English language for me it can be understood. Even though not all but
it has made me satisfy and I am
determined to be more stout trying to
learn and learn to be successful study abroad.
Then my advice to teachers Lokon ‘’continue to be a channel of blessing for future generations who want to learn from you’’. There is no finish or final word beautiful word, to thank all those who took part in the program LIP.
Sorry if all this time I got a good one for you through
our words, actions, behavior, and thank
you because you are quite friendly with us all. I cannot reply to all your
services but let God will reward’ ’Amen ‘’.
05 May 2013
Test Masuk Program Freshman Universitas Aachen German

LIP - Sabtu 4 Mei 2013, bertempat di Minitheatre, SMA Lokon St. Nikolaus Tomohon, Sulawesi Utara, diadakan test masuk untuk studi lanjut ke Jerman. Test ini dinamakan Tes Masuk Program Freshman (persiapan ke Universitas) khususnya ke Aachen Universitas di German. Prof. Herman Josef Buchkremer dan Pak Johanes Kembuan dari IDEA, secara khusus datang ke Lokon setelah melakukan perjalanan dari Makasar, Jakarta dalam acara yang sama.
Test 1 Matematika selama 60 menit. Jumlah soal 10 buah. Masing-masing soal berisi dua pertanyaan yang harus dijawab. Tes 2, bahasa Inggris selama 60 menit juga. Soalnya terdiri dari reading comprehension use of english 45 menit dan writing 30 menit. Peserta tes berjumlah 19 siswa. Dari jumlah itu 12 siswa adalah sytudents LIP. 8 siswa lain adalah penerima bea siswa kelas XII dari LPMAK dan 1 dari SMA Lokon. Tes berjalan lancar mulai dari jam 2 hingga jam 4 sore.
04 May 2013
Foto Bersama: Students LIP dengan Para Dosen
LIP - Rasa bersyukur selama mengikuti program pre-university yang diselenggarakan oleh LIP (Losnito Intensive Program) dari Yayasan Pendidikan Lokon, bekerja sama dengan IDEA dan Yayasan Pola Harapan Papua, tak terbendungkan.
Sejak awal Nopember 2012 hingga Mei 2013, mereka jalani dengan penuh semangat dan sntusiasme belajar yang tak meluruhkan niat untuk studi lanjut ke German. Semua pelajaran terutama bahasa Jerman, bahasa Inggris, Matematika, Kimia, Biologi dan lainnya mereka geluti terus. Monitoring kemajuan pembelajaran dilakukan dengan test mid dan tes akhir,
Selama mereka mengikuti kegiatan LIP, mereka tinggal di asrama/dormitory yang disediakan oleh YPL di Alamanda dan kemudian di Lokon Resting.
Awalnya ada 13 student. Kemudian Bebeto Tabuni mendahului temannya berangkat studi di Inggris. Kini tinggal 12 siswa yang terus menekuni pelajaran mereka hingga Mei.
Kebersamaan dengan para pengajar, menjadi kenangan yang terindah dan menguatkan semangat mereka untuk belajar ke Jerman.
22 February 2013
Guten Morgen, Papua!
“Tanah
Papua tanah yang kaya/surga kecil jatuh ke bumi/Seluas tanah sebanyak madu/adalah
harta harapan”
Syair lagu itu terdengar sedikit lirih di telinga saya bersamaan dengan deru
mesin diesel minibus Elf Silver, yang mengangkut 13 mahasiswa LIP untuk field-trip ke bumi Toar Lumimuut
Minahasa, Minggu lalu (4/11). Eramona, salah satu gadis Papua, mendendangkan
lagu “papua” itu dengan merdu penuh penghayatan. Lagu “papua” yang dipopulerkan
oleh Edo Kondologit, tak lama kemudian terdengar membahana dan menggilas suara
deru mesin minibus. Serentak mereka menyanyikan lagu Papua itu.
Bersamaan dengan nyanyian itu, dari jendela minibus, tampak panorama
menghijau agrowisata, tumbuh subur di setiap lekukan pada punggung pegunungan Minahasa
dan sekitarnya. Perjalanan ke bukit Temboan, Rurukan, siang itu, dinikmati
dalam suasana “papua”.
Tiba-tiba rem minibus berderit. Kami sudah tiba di bukit Temboan. Kami
turun dan kemudian melangkah ke depan rumah panggung. Di tempat itu, sejauh
mata memandang kami bisa melihat Danau Tondano, Pelabuhan Bitung, dan
pegunungan Masarang, Tampusu dll. Sebelum meninggalkan bukit Temboan, kami
berfoto.
“Eh kawan, luas mana danau Setani sama danau Tondano yang ada di sebelah sana?”
tanya saya kepada Jeffry Komba, ketua mereka setelah masuk kembali ke minibus.
“Besar Sentani Bapa” jawabnya dengan sopan. “Oh ya?” respon saya ragu-ragu
karena belum pernah melihat Danau Setani. Lalu saya berinisiatif untuk browsing
di internet dengan menggunakan tablet yang saya bawa. Ternyata Danau Sentani luasnya
245.000 ha, sementara Danau Tondano luasnya 4.278 ha. “Bapak tempat tadi, bikin
rindu kampung bapak. Seperti di pegunungan Wamena sudah” komentar Adolof
Wetipo.
Menyusuri alam Minahasa itu bak surga kecil jatuh ke bumi.Seluas tanah
sebanyak madu adalah harta harapan di masa depan bagi Eramona dan kawan-kawannya
seperti lagu yang dinyanyikan tadi. Namun, harta harapan itu yang berupa tanah
Papua tanah leluhur, mereka tinggalkan sejenak untuk mencari ilmu sekaligus asa
di tanah seberang di Sulawesi. Mereka baru dua minggu menginjakkan kakinya di
tanah Nyiur Melambai ini.
Aktivitas field trip tadi merupakan salah satu bagian dari proses pembelajaran
mereka untuk mempersiapkan diri study lanjut ke German. Ada tiga belas siswa
datang dari Propinsi Papua (Jayapura dan Wamena) untuk mempersiapkan diri agar
bisa kuliah di German di tahun mendatang. Karena itu, LIP, tempat mereka
belajar, memfasilitasi belajar mereka dengan mata kuliah antara lain bahasa
German, Matematika, Biologi, Ekonomi, Fisika, Hospility dll.
“Saya ingin jadi dokter. Kalau saya ingin jadi arsitektur. Saya suka jadi
dokter kandungan. Bisnis Managemen, Teknil sipil” itulah jawaban mereka ketika
ditanya tentang cita-cita mereka. Meski diungkap secara spontan, paling tidak ungkapan
mereka itu menjelaskan semangat dan arah hidup yang dipilih ketika mereka sudah
sampai di Jerman.
“Sebelum datang ke Manado, kami di seleksi dari 106 siswa yang mendaftar.
Lolos 15 siswa tapi yang datang hanya 13 siswa” cerita Adolof menceritakan
betapa ketatnya seleksi. Tak hanya itu, Profesor dari German datang ke Jayapura
untuk memotivasi kami.
Proses pembelajaran untuk mereka dibuat sangat intensif karena hanya enam
bulan mereka disiapkan di program yang bernama LIP. Minggu pun diisi dengan
pembekalan yang terkait dengan hospitality seperti table manner, hospital tour,
art performance dll. Untuk table manner, sebuah hotel mewah di Manado bersedia
dipakai untuk kegiatan pembelajaran.
“Kami senang menerima kedatangan para student LIP, kami berharap muncul
dokter-dokter pribumi dari Papua yang ingin membangun daerahnya dengan baik.
Rumah Sakit kami sudah menyiapkan program yang bernama “hospital tour” untuk
mereka yang ingin mempelajari tentang seluk beluk rumah sakit. Tak hanya
ceramah tetapi melihat langsung proses manajerial di rumah sakit kami” jawab
Manager Rumah Sakit Manado yang bertaraf International ketika Tim Pengajar LIP
memohon untuk tempat pembelajaran bagi mereka.
Lagu Papua kembali menggema ketika perjalanan kami sampai di jalan raya Kawangkoan Lahendong sebelum masuk ke Danau Linow. “Tanah Papua tanah leluhur/Di sana aku lahir/Bersama angin bersama daun/Aku dibesarkan//Hitam kulit keriting rambut aku papua/Hitam kulit keriting rambut aku papua/ Biar nanti langit terbelah aku papua…”
Mereka adalah generasi muda Papua yang meletakkan
asa untuk mengembangkan karakter mereka dan menimba ilmu di negeri orang. Hanya
satu cita-cita utama mereka. Setelah merantau sekitar 4-5 tahun, mereka pulang
ke tanah leluluhur untuk Papua. Semangat ini memotivasi mereka dalm belajar. “Guten
Morgen, Vater. Am Montag gehe ich in schule.” ucap Anas Kilungga, sambil
menghafal bahasa Jerman, saat berpapasan dengan saya pagi tadi sebelum
berangkat ke sekolah.





